Connect Me And Friend HTC

Welcome

Selamat datang di Coretan Taufik HTC - saya senang Anda berada di sini, dan berharap Anda sering datang kembali. Silakan Berlama - Lama di sini dan membaca lebih lanjut tentang artikel dunia teknik (Blogging, HTC, Pantun, Trik" handphone Dan Lain Lain) yang Kami susun. Ada banyak hal tentang kami, Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik.

Navigasi

Social Stuff

–<>–selamat datang di http://taufikdhubi.blogspot.com | terima kasih telah berkunjung | jangan lupa tinggalkan pesan–<>–

Rabu, 11 Juli 2012

TEMBOK BERLIN YANG BELUM ROBOH


TEMBOK BERLIN YANG BELUM ROBOH



Pesta kembang api peringatan 20 tahun runtuhnya tembok Berlin di depan Gerbang Brandenburg, pada 9 November lalu. (AFP/GETTY IMAGES)
Pesta kembang api peringatan 20 tahun runtuhnya tembok Berlin di depan Gerbang Brandenburg, pada 9 November lalu. (AFP/GETTY IMAGES)
(Epochtimes.co.id)
Tembok Berlin sudah roboh 20 tahun lamanya, acara peringatan meriah dan khidmat pun telah di langsungkan di Jerman. Hari kehancuran Tembok Berlin pada 9 November, persis seperti selesainya Perang Dunia II, hari tersebut telah dijadikan salah satu hari peringatan terpenting di dalam masyarakat umat manusia.
Sejumlah besar politisi dan pimpinan dunia baik yang masih menjabat ataupun yang sudah mantan semua berkumpul di Berlin termasuk Jerman, AS, Inggris, Prancis, Rusia serta Hungaria, Polandia dan lain-lain. Dari 5 anggota tetap Dewan Keamanan PBB semuanya hadir, Rusia pun telah menerima undangan dan hadir, kecuali pimpinan PKC (Partai Komunis China) saja yang absen. 
Pimpinan PKC dengan berbekal latar belakang Kebangkitan China dan Soft Power, bisa menghadiri rapat umum PBB, APEC, bahkan G-8, namun pada perayaan besar Berlin mereka terkucil di luar. Tak diragukan lagi hari tersebut adalah hari paling tidak mengenakkan bagi pimpinan PKC. Ini justru adalah semacam pemaknaan: tiada tempat bagi PKC di dunia yang beradab ini; atau, PKC berasal dari luar peradaban dunia.
Pada waktu bersamaan, Wen Jiaobao, PM-PKC yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Saudi Arabia, menggulirkan pidato dengan tema: "Menghormati Pluralisme Peradaban", ia berarti telah mengulang teks pembelaan diri di forum internasional yang pernah dilakukan oleh Jiang Zemin, mantan pimpinan PKC dan menuntut masyarakat internasional untuk bisa mentolerir kediktatoran satu partai "Model China".
Namun, pembelaan diri semacam ini, adalah demikian lemahnya, bahkan, hanya dibutuhkan retorika "Menggunakan tombak Anda untuk menyerang perisai Anda" segera bisa dibuat berantakan, tolong tanya: Wahai PKC kenapa Anda sendiri tidak bisa mentolerir pluralisme warga China sendiri? 
Mengenai hari yang bersejarah tersebut, media PKC hanya perlu melaporkan berita ringkas yang klise, yakni menekankan peran penting robohnya Tembok Berlin bagi reunifikasi Jerman bahkan hingga reunifikasi Eropa, sama sekali tak menyinggung sifat dasar robohnya Tembok Berlin yakni: Pemblokiran rezim otoriter terhadap kebebasan; serta makna gamblang robohnya Tembok Berlin yakni: Kemenangan bagi kebebasan dan demokrasi dan kekalahan bagi sistem otoriter dan kediktatoran. 
Seperti diketahui, robohnya Tembok Berlin sangat berhubungan erat dengan gerakan pro demokrasi China 4 Juni dan Pembantaian Tiananmen 89: Jeritan mahasiswa China, yang telah membangkitkan keberanian warga Eropa Timur; perbuatan para pembantai yang luar biasa keji dari PKC itu dan tanggung jawab mereka terhadap sejarah, membuat nurani para dedengkot partai komunis Eropa Timur itu resah dan tangan-kakinya gemetaran.
Di pihak masyarakat, keberanian perlawanan bertumbuh pesat; di pihak penguasa, tekad penindasan menyusut tajam. Kedua hal tersebut saling bergerak mendekat dan mencuatkan ruang bagi perubahan raksasa sejarah Eropa Timur dan Uni Soviet.
Gerakan prodem 89, di China, mengalami kekalahan, akibatnya, darah mengalir deras. Namun benih-benih gerakan prodem 89 China toh telah membuahkan hasil di seluruh dunia. Eropa Timur bebas, Uni Soviet tercerai-berai, untuk itu, jasa para pelajar China yang sangat banyak itu tak bisa diabaikan. Jangan mengulas hero berdasarkan kalah-menang, seruan memilukan dari para mahasiswa 89 China dan kaum intelektual memang belum menjadi kenyataan, tapi gelora semangat mereka tak akan memancar sia-sia. Pengaruh tersebut, mana bisa hanya sebatas Eropa Timur dan Uni Soviet? Tindakan mereka yang heroik, akan dicatat selamanya di dalam kitab sejarah. 
Para korban penindasan untuk sementara ini, sebagai tumbal, masih saja berlanjut sebagai korban, warga China yang masih saja diperbudak oleh penguasa, menjadi alas kaki bagi rakyat dunia untuk menikmati kebebasan. Tembok Berlin telah roboh, itu adalah Tembok Berlin Jerman. Tembok Berlin yang belum roboh secara tuntas, itu adalah Tembok Berlin dengan makna yang luas, itulah sisa-sisa benteng tirani dalam lingkup dunia. Terutama di China, wilayah tirani terbesar di dunia dewasa ini, Tembok Berlin sesungguhnya ada dimana-mana. 
Internet yang diblokir dan disensor adalah Tembok Berlin; media yang dikontrol dan "diarahkan" adalah Tembok Berlin. Yang disekat dan difilter, bukan hanya informasi riil dari luar negeri, juga keadaan rakyat riil di dalam negeri; dinding merah tebal yang mengelilingi Zhongnanhai (tempat hunian eksklusif para petinggi PKC di Beijing) adalah Tembok Berlin, ia adalah dinding akustik yang mengabaikan kehendak rakyat; tentara PKC yang dijuluki "Tembok Besar Baja" adalah Tembok Berlin, yang ia lindungi bukannya negara ini, melainkan rezim tersebut. Seperti yang dipamerkan di Olimpiade atau defile militer, pasukan yang "Mendengar perintah partai" ini, kegunaan utamanya ialah menghadang warga China yang notabene adalah majikan negara telah tercekal di luar "Tembok Besar".
Akses negara dan perbatasan negara yang menutup diri bagi para dissiden juga adalah Tembok Berlin, hanya saja lebih absurb dibandingkan dengan Tembok Berlin milik Jerman: Tembok Berlin dari Jerman Timur, melarang warganya bepergian; Tembok Berlin dari China --- imigrasi, batas negara, warga negara sendiri dilarang pulang. Dewasa ini, warga China seperti Li Jianhong, Feng Zhenghu dan lain-lain (nama-nama aktivis HAM China) hanya bisa memandangi pintu negara tanpa bisa memasukinya dan sedang mengalami sendiri Tembok Berlin-China yang seram dan brutal. 
Melompati tembok, istilah dari internet China yang sedang tren, ia sendiri telah menonjolkan makna tembok. Kala itu, warga Jerman Timur menempuh risiko melompati Tembok Berlin, sebagai konsekuensinya banyak yang kehilangan nyawanya; hari ini, warga China melompati Tembok Berlin internet yang melulu benda abstrak, ternyata sebagai konsekuensinya banyak yang harus mendekap di balik teralis besi.   
Wen Jiabao yang membela di-ri, untuk membela pemerintahan otoriter PKC, bahkan mengobral kata-kata bijak dari kebudayaan China kuno seperti "memuliakan perdamaian", "meski berbeda tapi bertoleransi", "apa yang kau tidak suka orang lain lakukan kepadamu, jangan lakukan kepada orang lain" dan lain-lain, dengan harapan masyarakat internasional "memahami" mereka, betul-betul ironis.
Kenapa PKC sendiri dalam menghadapi orang yang memiliki pandangan berbeda, tidak "memuliakan perdamaian"? Terhadap orang Tibet dan Xinjiang, kenapa PKC tidak mengusulkan "meski berbeda tapi bertoleransi"? Terhadap warga China sendiri, kenapa PKC tidak bersikap "Apa yang kau tidak suka orang lain lakukan kepadamu, jangan lakukan kepada orang lain"? Dari situ sebaliknya bisa dibuktikan bahwa grup bobrok tirani PKC bukan saja bertolak belakang dengan arus peradaban dunia moderen ini, bahkan sama sekali tidak sesuai dengan tradisi dan peradaban China kuno.     
Jika orang-orang seperti Wen Jiabao cs. masih memiliki secuil IQ, mestinya setidaknya mau melihat dulu ke dalam: Mengenai pendidikan yang "bersifat menghargai kemajemukan peradaban", seharusnya diadakan di China, di Beijing, di Zhongnanhai, di Huairentang (nama gedung bersejarah di Beijing, alamat Komite Nasional untuk Konsultatif Politik Rakyat China), bukannya untuk berpolemik, berkoar, bertele-tele, bergumam dan membohongi diri sendiri dan orang lain di forum internasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Chrome Pointer
Diberdayakan oleh Blogger.